Tampilkan postingan dengan label Pelindung Anti Peluru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelindung Anti Peluru. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 April 2014
Helm Anti Peluru - Surplus Stok Militer
Helm Anti Peluru - Surplus Stok Militer
Toko Helm Militer | Gudang Helm Militer | Helm Anti Peluru | Helm
Aramid | Helm Standar TNI | Helm Standar UN | Helm Anti Peluru Level II
dan III | Sertifikasi TNI & POLRI
Helm Anti Peluru Level II & III
Bahan Composite Kevlar Laminated.dengan pelindung benturan.
Sertifikat uji : TNI & POLRI
Material : Aramid/ Kevlar by USA
Level : II & III A
Weight : 1.2 – 1.45 Kg
Size : S, M, L
Type : PASGT

Jumlah lapisan disesuaikan dengan jenis kevlar ( type) dan Level yang diperlukan
Bagian dalam helm dilapisi penahan benturan ( Blunt Trauma )
Tali pengikat dengan kekuatan tarik 80 kgf
Model : PASGT
Bagian tepi helm dilapisi karet pelipit
Warna dapat disesuaikan dengan permintaan
Finishing permukaan luar dibuat kasar
STANDAR HELM ANTI PELURU
N I J 01.01.03 STANDAR AMERICA
1. THREAT LEVEL II
BALLISTIC RESISTANCE
9 mm FMJ
Kecepatan Peluru 1175 ft / sec atau 358 m / sec
Pada Jarak Tembak 5 m
.357 magnum JSP
Kecepatan Peluru 1395 ft / sec atau 425 m / sec
Pada Jarak tembak 5m
2. THREAT LEVEL III A
BALLISTIC RESISTANCE
9 mm FMJ
Kecepatan Peluru 1400 ft / sec atau 427 m / sec
Pada Jarak Tembak 5 m
.44 magnum Lead Semi Wood Cutter ( LSW)
Kecepatan Peluru 1400 ft / sec atau 427 m / sec
Pada Jarak Tembak 5m
Helm Anti Peluru - Surplus Stok Militer
Read More

Helm Anti Peluru - Surplus Stok Militer
Toko Helm Militer | Gudang Helm Militer | Helm Anti Peluru | Helm
Aramid | Helm Standar TNI | Helm Standar UN | Helm Anti Peluru Level II
dan III | Sertifikasi TNI & POLRI
Helm Anti Peluru Level II & III
Bahan Composite Kevlar Laminated.dengan pelindung benturan.
Sertifikat uji : TNI & POLRI
Material : Aramid/ Kevlar by USA
Level : II & III A
Weight : 1.2 – 1.45 Kg
Size : S, M, L
Type : PASGT


Jumlah lapisan disesuaikan dengan jenis kevlar ( type) dan Level yang diperlukan
Bagian dalam helm dilapisi penahan benturan ( Blunt Trauma )
Tali pengikat dengan kekuatan tarik 80 kgf
Model : PASGT
Bagian tepi helm dilapisi karet pelipit
Warna dapat disesuaikan dengan permintaan
Finishing permukaan luar dibuat kasar
STANDAR HELM ANTI PELURU
N I J 01.01.03 STANDAR AMERICA
1. THREAT LEVEL II
BALLISTIC RESISTANCE
9 mm FMJ
Kecepatan Peluru 1175 ft / sec atau 358 m / sec
Pada Jarak Tembak 5 m
.357 magnum JSP
Kecepatan Peluru 1395 ft / sec atau 425 m / sec
Pada Jarak tembak 5m
2. THREAT LEVEL III A
BALLISTIC RESISTANCE
9 mm FMJ
Kecepatan Peluru 1400 ft / sec atau 427 m / sec
Pada Jarak Tembak 5 m
.44 magnum Lead Semi Wood Cutter ( LSW)
Kecepatan Peluru 1400 ft / sec atau 427 m / sec
Pada Jarak Tembak 5m
Selasa, 22 April 2014
Pabrik Seragam Pasukan Anti Huru - Hara
Pabrik Seragam Pasukan Anti Huru - Hara
ARMOR PERSONAL UNIT - APU - Seragam Anti Huru-Hara - Pabrik Seragam
Militer - Pabrik Perlengkapan Pasukan Huru-Hara - Konveksi Seragam PHH -
Baju PHH - Perlengkapan PHH
SATPOL PP
Armor personal Unit ( A P U ) / Pakaian anti huru-hara ( PHH ) / Pakaian PHH ( Pasukan Anti huru-hara )
1. Material
a. Texture Polyester : 300 D
b. Construction: 108 x 58
c. Thin : Plate 1/ 1
d. Colour : Order
2. Foaming Polyrethane
a. Thin 5mm
b. Laminated w/ kneeting fabric
3. Netmesh Fabric
a. Colour : Order
4. Foam
a. Rubber foam eva : 8 mm
b. foam 5 mm
c. Colour : Black
5. Protector Plate
a. Body : fiber / Allumunium
b. Back Bone : fiber / Allumunium
c. Colour : Black
6. Another Protector
a. Shoulder : fiberglass with resin polyster
b. Arm & Finger: fiberglass with resin polyster
c. Leg : fiberglass with resin polyster
7. Tools Protector
a. Bucke : Black
b. Velcro : Black
8. Label
Colour : Order
9. Accessories
Bag Pack from Nylon
10. Weight : 4 kg . ( termasuk Tas )
ARMOR PERSONAL UNIT - Head Protector
1. Helmet
a. Material NRP ( Nylon Reinforce Plastic)
b. . Colour : order
c. Weight : 1, 17Kg
2. Face Protector
a. Polycarbonate
b. Frame Steel
c. Thin 1, 6 mm
3. Neck Protector
a. Nylon, foam
4. Name Label
5. Blaunt Trauma
Shock absorber, stereo foam 1cm
b. Foam 0, 5 cm leather
Large Shield
1. Shield
a. Non Fracture
b. Material : polycarbonate / Polyglass
c. Colour Transparant atau sesuia permintaan
d. W: 53 cm, D: 49cm, H: 98cm,
e. Thin 5 mm
f. Weight : 3, 1 kg
2. Name Label : Order
3. Handle Bracket
Steel Plate Thin 2mm
Combined with rubber
4. Handle grip
a. Allumunium with rubber grip
5. Handle support
a. Nylon webbing, L: 3, 5CM & Velcro
6. Arm & Finger Protector
a. Rubber sponge protector
b.Thin : 12 cm, W : 16 cm dan L : 53 cm
Pabrik Seragam Pasukan Anti Huru - Hara
Read More

Pabrik Seragam Pasukan Anti Huru - Hara
ARMOR PERSONAL UNIT - APU - Seragam Anti Huru-Hara - Pabrik Seragam
Militer - Pabrik Perlengkapan Pasukan Huru-Hara - Konveksi Seragam PHH -
Baju PHH - Perlengkapan PHH
SATPOL PP
Armor personal Unit ( A P U ) / Pakaian anti huru-hara ( PHH ) / Pakaian PHH ( Pasukan Anti huru-hara )
1. Material
1. Material
a. Texture Polyester : 300 D
b. Construction: 108 x 58
c. Thin : Plate 1/ 1
d. Colour : Order
2. Foaming Polyrethane
a. Thin 5mm
b. Laminated w/ kneeting fabric
3. Netmesh Fabric
a. Colour : Order
4. Foam
a. Rubber foam eva : 8 mm
b. foam 5 mm
c. Colour : Black
5. Protector Plate
a. Body : fiber / Allumunium
b. Back Bone : fiber / Allumunium
c. Colour : Black
6. Another Protector
a. Shoulder : fiberglass with resin polyster
b. Arm & Finger: fiberglass with resin polyster
c. Leg : fiberglass with resin polyster
7. Tools Protector
a. Bucke : Black
b. Velcro : Black
8. Label
Colour : Order
9. Accessories
Bag Pack from Nylon
10. Weight : 4 kg . ( termasuk Tas )

ARMOR PERSONAL UNIT - Head Protector
1. Helmet
1. Helmet
a. Material NRP ( Nylon Reinforce Plastic)
b. . Colour : order
c. Weight : 1, 17Kg
2. Face Protector
a. Polycarbonate
b. Frame Steel
c. Thin 1, 6 mm
3. Neck Protector
a. Nylon, foam
4. Name Label
5. Blaunt Trauma
5. Blaunt Trauma
Shock absorber, stereo foam 1cm
b. Foam 0, 5 cm leather
Large Shield
1. Shield
a. Non Fracture
b. Material : polycarbonate / Polyglass
c. Colour Transparant atau sesuia permintaan
d. W: 53 cm, D: 49cm, H: 98cm,
e. Thin 5 mm
f. Weight : 3, 1 kg
2. Name Label : Order
3. Handle Bracket
3. Handle Bracket
Steel Plate Thin 2mm
Combined with rubber
4. Handle grip
a. Allumunium with rubber grip
5. Handle support
a. Nylon webbing, L: 3, 5CM & Velcro
6. Arm & Finger Protector
a. Rubber sponge protector
b.Thin : 12 cm, W : 16 cm dan L : 53 cm
Hasil Uji Rompi Anti Peluru
Seiring meningkatnya gangguan keamanan dan meningkatnya tindak kejahatan
belakangan ini terutama penembakan yang terjadi terhadap anggota
kepolisian, maka dibutuhkan sebuah tidakan preventif untuk
mengantisipasi segala bentuk kemungkinan yang akan terjadi yang akan
membahayakan keselamatan jiwa para petugas pengayom masyarakat ini.
Untuk itulah kami mendistribusikan perlengkapan keamanan sebagai salah
satu upaya membantu melindungi putra-putri ibu pertiwi yang merupakan
aset berharga bangsa dan negara yang kita cintai ini.
SPESIFIKASI SINGKAT ROMPI ANTI PELURU
Untuk pengetahuan dasar mengenai rompi anti peluru silahkan baca artikel INI
Sebagai gambaran singkat mengenai kemampuan rompi anti peluru ini kami
sampaikan secara ringkas contoh hasil uji ROMPI IIIA yang kami lakukan
di DISLITBANG TNI AD, Batujajar - Bandung, JABAR.
Agar dapat lolos uji sebuah rompi level III harus memenuhi persyaratan :
a. Ditembak dengan peluru berkecepatan 343 s/d 373 m/detik
b. Berat pelor 8 gram kaliber 9 mm (amunisi standar POLRI/TNI)
c. Ditembak dengan jarak 5 meter
d. Dalam 5 tembakan tidak boleh tembus
e. Deformasi MAKSIMAL 44 mm
Dari hasil yang kami dapat bahwa dalam hasil uji tersebut menyatakan
bahwa produk rompi yang kami miliki TT atau tidak tembus dan mengalami
deformasi kurang dari 44 mm.
Berdasarkan beberapa kasus penembakan yang belakangan ini terjadi dimana
dari hasil olah TKP menyimpulkan bahwa jarak penembakan terjadi kurang
lebih 5 meter dari korban. sehingga standar ideal
rompi yang digunakan adalah level IIIA atau III untuk mengurangi efek
memar yang terjadi akibat daya lontar kinetis dari peluru yang tertahan
rompi kevlar tersebut.
Hasil Uji Rompi Anti Peluru
Read More
Seiring meningkatnya gangguan keamanan dan meningkatnya tindak kejahatan
belakangan ini terutama penembakan yang terjadi terhadap anggota
kepolisian, maka dibutuhkan sebuah tidakan preventif untuk
mengantisipasi segala bentuk kemungkinan yang akan terjadi yang akan
membahayakan keselamatan jiwa para petugas pengayom masyarakat ini.
Untuk itulah kami mendistribusikan perlengkapan keamanan sebagai salah
satu upaya membantu melindungi putra-putri ibu pertiwi yang merupakan
aset berharga bangsa dan negara yang kita cintai ini.
SPESIFIKASI SINGKAT ROMPI ANTI PELURU
Untuk pengetahuan dasar mengenai rompi anti peluru silahkan baca artikel INI
Sebagai gambaran singkat mengenai kemampuan rompi anti peluru ini kami
sampaikan secara ringkas contoh hasil uji ROMPI IIIA yang kami lakukan
di DISLITBANG TNI AD, Batujajar - Bandung, JABAR.
Agar dapat lolos uji sebuah rompi level III harus memenuhi persyaratan :
a. Ditembak dengan peluru berkecepatan 343 s/d 373 m/detik
b. Berat pelor 8 gram kaliber 9 mm (amunisi standar POLRI/TNI)
c. Ditembak dengan jarak 5 meter
d. Dalam 5 tembakan tidak boleh tembus
e. Deformasi MAKSIMAL 44 mm
Dari hasil yang kami dapat bahwa dalam hasil uji tersebut menyatakan bahwa produk rompi yang kami miliki TT atau tidak tembus dan mengalami deformasi kurang dari 44 mm.
Berdasarkan beberapa kasus penembakan yang belakangan ini terjadi dimana
dari hasil olah TKP menyimpulkan bahwa jarak penembakan terjadi kurang
lebih 5 meter dari korban. sehingga standar ideal
rompi yang digunakan adalah level IIIA atau III untuk mengurangi efek
memar yang terjadi akibat daya lontar kinetis dari peluru yang tertahan
rompi kevlar tersebut.
Cara Kerja Rompi Anti peluru
PRINSIP KERJA ROMPI ANTI PELURU
Prinsip kerjanya adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi
kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk
menyerap energi laju tersebut dan memecahnya ke penampang rompi anti
peluru yang luas, sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk
membuat peluru dapat menembus rompi anti peluru.
Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling
terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang,
maka energi kinetik bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang
menyebabkan tali di sekitarnya bertambah panjang dan kemudian tekanan
tali akan dialirkan ke tiang gawang.
Dalam menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang
menekan ke arah dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga
mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh
lebih dari 44 mm. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna rompi
anti peluru akan mengalami luka dalam yang tentunya akan membahayakan
keselamatan jiwa.
Anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari
cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah salah. Perlu ditekankan
sekali lagi, bahwa fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan
peluru. Sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi
anti peluru.
Tidak jarang akibat tekanan yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai rompi
anti peluru akan menderita luka memar hingga patah tulang. Tentunya
cidera juga tergantung dari jenis rompi anti peluru yang digunakan. Ini
menunjukkan bahwa istilah rompi anti peluru ( bullet proof vest)
tidaklah tepat, istilah yang benar adalah rompi balistik ( ballistic
vest) .
LEVEL ROMPI BALISTIK
Standar rompi balistik yang paling banyak digunakan adalah standar NIJ ( National Institute of Justice) Amerika.
Berdasarkan standar ini, rompi balistik dibagi menjadi beberapa
tingkatan ( level) , yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I
adalah tingkatan yang terendah, rompi balistik hanya dapat menahan
peluru yang berkaliber kecil. Lengkapnya lihat gambar di atas. Mulai
level III rompi balistik akan dilengkapi dengan lempengan besi, sehingga
mampu untuk menahan shotgun.
Dengan menggunakan material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan
yang diberikan, maka akan semakin tebal dan berat rompi balistik yang
harus dikenakan. Ini tentunya merupakan kekurangan dari material
tersebut. Atas dasar ini, pihak ilmuwan dan militer masih mengembangkan
material baru yang lebih ringan dan juga lebih kuat.
Rompi anti-peluru adalah pakaian pelindung untuk meminimalkan cidera
karena terkena peluru. Biasanya dipakai oleh personil militer dan polisi
dalam tugas-tugas tertentu. Bahan untuk rompi anti-peluru diantaranya
logam ( baja atau titanium) , keramik atau jenis polimer yang dapat
memberikan perlindungan ekstra terhadap bagian-bagian vital pemakainya.
Rompi ini melindungi pemakainya dengan cara menahan laju peluru. Peluru
dihentikan sebelum berpenetrasi ke dalam tubuh. Ketika rompi menahan
penetrasi peluru, dorongan dari peluru direduksi dengan menyebarkan
momentumnya ke seluruh tubuh. Pemakai tetap akan merasakan energi
kinetik dari peluru, hal ini dapat menyebabkan luka memar, bengkak atau
luka dalam yang cukup serius.
Salah satu polimer yang dikembangkan sebagai bahan rompi anti-peluru
modern adalah kevlar. Kevlar dikenal juga sebagai twaron dan
poli-parafenilen tereftalamida, yaitu suatu serat sintetik yang
kekuatannya lima kali kekuatan tembaga, dengan berat yang sama.
Kevlar sangat tahan terhadap panas dan terdekomposisi di atas 400 oC
tanpa meleleh. Kevlar ditemukan oleh perusahaan DuPont pada awal
1960-an, hasil kerja dari Stephanie Kwolek. Kevlar merupakan merk dagang
yang terdaftar oleh E.I. de Pont de Nemours and Company.
Sifat-sifat
Kevlar adalah salah satu tipe aramida, yang terdiri dari rantai panjang
polimer dengan orientasi paralel. Aramida sendiri merupakan suatu serat
sintetik yang berupa rantai panjang poliamida sintetik dengan paling
sedikit 85 persen sambungan amidanya menempel secara langsung pada dua
rantai aromatik ( gugus amida dan gugus aromatik berselang-seling) .
Kekuatan kevlar diperoleh dari ikatan hidrogen intra-molekuler dan
interaksi tumpukan aromatik-aromatik antar lembaran. Interaksi-interaksi
ini lebih kuat daripada interaksi Van der Waals yang terdapat dalam
polimer-polimer sintetik lain dan serat-serat seperti dyneema ( serat
yang terbuat dari rantai polietilena yang sangat panjang, yang tersusun
searah) . Keberadaan garam-garam dan impuritis lain, biasanya kalsium,
dapat mengganggu interaksi pada lembaran polimer dan harus dihilangkan
dalam proses produksi. Kevlar terdiri dari molekul-molekul yang relatif
rigid, yang membentuk struktur seperti lembaran-lembaran datar pada
protein sutra.
Dari sifat-sifat tersebut diperoleh serat dengan kekuatan mekanik yang tinggi dan tahan terhadap panas.
Kevlar mempunyai gugus-gugus bebas yang dapat membentuk ikatan hidrogen
pada bagian luarnya, sehingga dapat mengabsorp air dan mempunyai sifat ‘
basah’ yang baik. Hal ini juga menjadikannya terasa lebih alami dan ‘
lengket’ dibandingkan dengan polimer pada umumnya, seperti polietilen.
Kelemahan utama dari kevlar adalah dapat terdekomposisi pada kondisi
basa atau ketika terpapar klorin. Meskipun dapat mendukung tensile
stress yang besar, kevlar tidak cukup kuat di bawah tekanan kompresif.
Untuk mengatasi masalah ini, kevlar sering digunakan secara bersama
dengan bahan yang kuat terhadap tekanan kompresif.
Produksi
Kevlar disintesis dari monomer 1, 4-fenildiamin ( para-fenilendiamin)
dan tereftaloil klorida. Hasilnya adalah polimer aromatik amida (
aramida) dengan cincin benzena dan gugus amida yang berselang-seling.
Dengan langkah produksi ini, diperoleh lembaran polimer yang tergabung
secara acak. Untuk membuat kevlar, bahan-bahan dilarutkan dan diaduk,
menghasilkan rantai polimer yang berorientasi membentuk serat.
Kevlar berharga mahal karena sulitnya pemakaian asam sulfat pekat dalam
produksinya. Kondisi yang ekstrim ini dibutuhkan untuk menjaga
ketaklarutan polimer yang tinggi dalam larutan selama sintesis dan
pengadukan.
Bahan anti-peluru lain yang dikembangkan setelah kevlar diantaranya DSM’
s Dyneema, Akzo’ s Twaron, Toyobo’ s Zylon ( yang kontroversial, studi
terbaru melaporkan, bahan ini terdegradasi dengan cepat sehingga
pemakainya tidak terlindungi seperti yang diharapkan) , atau Honeywell’ s
GoldFlex – semuanya merupakan merk dagang. Bahan-bahan yang baru ini
lebih ringan, tipis, dan lebih tahan dibanding kevlar, namun harganya
lebih mahal.
Proses Bagaimana Sebuah Peluru Ditembakkan
Sebelum anda membaca Proses Bagaimana Sebuah Peluru Ditembakkan ini
lebih jauh, sebaiknya anda terlebih dahulu memahami bagian-bagian dari
peluru. Sebuah peluru terdiri dari beberapa bagian yaitu proyektil
peluru ( anak peluru) , selongsong peluru, mesiu, dan primer.
Keseluruhan rangkaian ini disebut amunisi. Istilah " peluru " sebenarnya
hanya mengacu pada bagian proyektil dari amunisi tersebut, atau anak
peluru yang ditembakkan, dan bukan keseluruhan dari amunisi tersebut.
Selongsong peluru adalah benda yang merupakan wadah yang yang membungkus
proyektil peluru dan terdiri dari propelan ( biasanya bubuk mesiu) ,
rim, dan primer. Bubuk mesiu berfungsi sebagai pencetus ledakan yang
mendorong proyektil peluru dengan energi kinetik. Selongsong peluru
sendiri baru dikenal pada penggunaan amunisi senjata api modern.
Sebuah selongsong yang berisi propelan tanpa menggunakan proyektil
peluru disebut peluru hampa atau peluru kosong, di mana saat primer
terpukul, hanya akan terdengar suara ledakan tanpa adanya proyektil yang
ditembakkan senapan. Peluru hampa umumnya digunakan saat dibutuhkannya
suara dan kilatan senjata api, tanpa proyektil yang berbahaya, misalnya
untuk latihan militer, dalam pengambilan gambar film, dan pada pistol
penanda pada olahraga balap lari. Walaupun tidak berisi anak peluru,
peluru hampa tetap berbahaya. Peluru hampa dapat menyebabkan kematian
bila ditembakkan ke seseorang pada jarak yang dekat. Pemeran film
Brandon Lee dan Jon-Erik Hexum tewas karena senjata api yang menggunakan
peluru hampa.
Terdapat satu lagi jenis amunisi khusus lainnya yaitu peluru karet.
Peluru karet adalah proyektil yang terbuat dari karet, atau yang
dilapisi karet, yang ditembakkan dari senjata api. Peluru karet
digunakan sebagai senjata tidak mematikan, namun tetap dapat menembus
kulit manusia. Peluru karet tetap dapat menyebabkan kematian apabila
digunakan pada jarak dekat atau terkena bagian vital seperti kepala.
Peluru karet, bersama dengan peluru plastik, lilin, dan kayu, digunakan
pada saat kerusuhan atau unjuk rasa. Pertama kali diperkenalkan oleh
pemerintah Amerika Serikat guna menghadang demonstran anti perang
Vietnam pada tahun 60-an.
Bagaimana Proses Sebuah Peluru Ditembakkan
Selongsong peluru bersifat kedap udara dan akan mengunci ruang
pembakaran amunisi dari segala arah kecuali pada bagian bawah selongsong
tersebut.
Ketika pelatuk senapan ditarik, pin pemicu tembakan akan memukul primer dan memicunya.
Percikan api akan terjadi akibat pukulan pin pada primer dan akan membakar gas pada bubuk mesiu.
Gas yang terbakar dari bubuk mesiu mendorong proyektil peluru lepas dari selongsong-nya.
Setelah peluru terlepas, tekanan pada selongsong akan hilang menjadikan
selongsong tersebut terlontar keluar dari ruang pembakaran.
Satu dasawarsa terakhir factor keamanan menjadi suatu hal yg sangat didambakan oleh seluruh masyarakat Jakarta.
Jakarta merupakan Kota terpadat dan termajemuk di Indonesia, yang juga
merupakan kota yg paling tinggi tingkat kriminalitasnya , mungkin tidak
hanya tertinggi di Indonesia , akan tetapi di seluruh Asia tenggara.
Selain tingkat kriminilitas yang tinggi , Jakarta yang merupakan pusat
pemerintahan Negara Indonesia , juga merupakan target utama bagi gerakan
gerakan teroris , baik teroris lokal maupun internasi-onal guna
menggoncang kestabilan keamanan negara maupun guna tujuan- tujuan
politik sekala international , yg di tahun tahun terakhir begitu
dahsyatnya menggoncang kota Jakarta .
Kasus kedubes filipina, kasus malam Natal 2001 , kasus Hotel Ma-rriot,
dan terakhir beberapa saat yg lalu kedubes Australia yang digoncang Bom
berkekuatan tinggi yg memporak porandakan gedung sekitarnya yang
beradius 500 meter dan merengut nyawa orang-orang yg tak berdosa serta
melukai ratusan orang. Belum lagi bom-bom yg sekala kecil yg sering
terjadi di tahun belakangan ini. Merupakan bukti bahwa factor keamanan
begitu susahnya kita dapatkan.
Begitu juga kriminalitas dijalan, perampokan bersenjata, tajam, kampak,
bahkan perampokan dengan senjata api sudah merupakan menu harian
koran-koran ibukota.
Terbongkarnya penyelundupan 2 kontainer berbagai tipe Senjata Api pada
12 November 2004 oleh bea cukai Tanjung Priok , salah satu bukti bahwa
jakarta juga merupakan target potensial untuk beredarnnya senjata api
ilegal, lalu kemanakah beredarnya senjata senjata terse-but maka tidak
heran perampokan dan kejahatan bersenjata api telah menjadi trend
kejahatan saat ini.
Rasa ketidak aman berkendara di jalanan jakarta tidak hanya oleh faktor
kejahatan seperti tersebut diatas saja, akan tetapi sering kali kita
terjebak dalam Tawuran anak anak sekolah dan tawuran antar warga, dimana
batu batu dan benda keras lainnya bisa sangat mengan-cam keselamatan
kita dan keluarga kita yg sedang berada dan ter-jebak ditengah tengah
situasi tersebut.Kerja Keras Polisi sebagai benteng kemananan masyarakan
selama ini terbukti belum lah cukup, masih saja terjadi hal2 seperti
tersebut diatas.
Usaha pengamanan Sendiri adalah hal pencegahan yg paling tepat yg harus dilakukan oleh kita.
Cara Kerja Rompi Anti peluru
Read More
PRINSIP KERJA ROMPI ANTI PELURU
Prinsip kerjanya adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi
kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk
menyerap energi laju tersebut dan memecahnya ke penampang rompi anti
peluru yang luas, sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk
membuat peluru dapat menembus rompi anti peluru.
Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi kinetik bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali di sekitarnya bertambah panjang dan kemudian tekanan tali akan dialirkan ke tiang gawang.
Dalam menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 44 mm. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna rompi anti peluru akan mengalami luka dalam yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.
Anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah salah. Perlu ditekankan sekali lagi, bahwa fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan peluru. Sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi anti peluru.
Tidak jarang akibat tekanan yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai rompi
anti peluru akan menderita luka memar hingga patah tulang. Tentunya
cidera juga tergantung dari jenis rompi anti peluru yang digunakan. Ini
menunjukkan bahwa istilah rompi anti peluru ( bullet proof vest)
tidaklah tepat, istilah yang benar adalah rompi balistik ( ballistic
vest) .Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi kinetik bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali di sekitarnya bertambah panjang dan kemudian tekanan tali akan dialirkan ke tiang gawang.
Dalam menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 44 mm. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna rompi anti peluru akan mengalami luka dalam yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.
Anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah salah. Perlu ditekankan sekali lagi, bahwa fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan peluru. Sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi anti peluru.

LEVEL ROMPI BALISTIK
Standar rompi balistik yang paling banyak digunakan adalah standar NIJ ( National Institute of Justice) Amerika.
Berdasarkan standar ini, rompi balistik dibagi menjadi beberapa
tingkatan ( level) , yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I
adalah tingkatan yang terendah, rompi balistik hanya dapat menahan
peluru yang berkaliber kecil. Lengkapnya lihat gambar di atas. Mulai
level III rompi balistik akan dilengkapi dengan lempengan besi, sehingga
mampu untuk menahan shotgun.
Dengan menggunakan material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan yang diberikan, maka akan semakin tebal dan berat rompi balistik yang harus dikenakan. Ini tentunya merupakan kekurangan dari material tersebut. Atas dasar ini, pihak ilmuwan dan militer masih mengembangkan material baru yang lebih ringan dan juga lebih kuat.
Rompi anti-peluru adalah pakaian pelindung untuk meminimalkan cidera karena terkena peluru. Biasanya dipakai oleh personil militer dan polisi dalam tugas-tugas tertentu. Bahan untuk rompi anti-peluru diantaranya logam ( baja atau titanium) , keramik atau jenis polimer yang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap bagian-bagian vital pemakainya.
Rompi ini melindungi pemakainya dengan cara menahan laju peluru. Peluru dihentikan sebelum berpenetrasi ke dalam tubuh. Ketika rompi menahan penetrasi peluru, dorongan dari peluru direduksi dengan menyebarkan momentumnya ke seluruh tubuh. Pemakai tetap akan merasakan energi kinetik dari peluru, hal ini dapat menyebabkan luka memar, bengkak atau luka dalam yang cukup serius.
Dengan menggunakan material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan yang diberikan, maka akan semakin tebal dan berat rompi balistik yang harus dikenakan. Ini tentunya merupakan kekurangan dari material tersebut. Atas dasar ini, pihak ilmuwan dan militer masih mengembangkan material baru yang lebih ringan dan juga lebih kuat.
Rompi anti-peluru adalah pakaian pelindung untuk meminimalkan cidera karena terkena peluru. Biasanya dipakai oleh personil militer dan polisi dalam tugas-tugas tertentu. Bahan untuk rompi anti-peluru diantaranya logam ( baja atau titanium) , keramik atau jenis polimer yang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap bagian-bagian vital pemakainya.
Rompi ini melindungi pemakainya dengan cara menahan laju peluru. Peluru dihentikan sebelum berpenetrasi ke dalam tubuh. Ketika rompi menahan penetrasi peluru, dorongan dari peluru direduksi dengan menyebarkan momentumnya ke seluruh tubuh. Pemakai tetap akan merasakan energi kinetik dari peluru, hal ini dapat menyebabkan luka memar, bengkak atau luka dalam yang cukup serius.
Salah satu polimer yang dikembangkan sebagai bahan rompi anti-peluru
modern adalah kevlar. Kevlar dikenal juga sebagai twaron dan
poli-parafenilen tereftalamida, yaitu suatu serat sintetik yang
kekuatannya lima kali kekuatan tembaga, dengan berat yang sama.
Kevlar sangat tahan terhadap panas dan terdekomposisi di atas 400 oC
tanpa meleleh. Kevlar ditemukan oleh perusahaan DuPont pada awal
1960-an, hasil kerja dari Stephanie Kwolek. Kevlar merupakan merk dagang
yang terdaftar oleh E.I. de Pont de Nemours and Company.
Sifat-sifat
Kevlar adalah salah satu tipe aramida, yang terdiri dari rantai panjang polimer dengan orientasi paralel. Aramida sendiri merupakan suatu serat sintetik yang berupa rantai panjang poliamida sintetik dengan paling sedikit 85 persen sambungan amidanya menempel secara langsung pada dua rantai aromatik ( gugus amida dan gugus aromatik berselang-seling) . Kekuatan kevlar diperoleh dari ikatan hidrogen intra-molekuler dan interaksi tumpukan aromatik-aromatik antar lembaran. Interaksi-interaksi ini lebih kuat daripada interaksi Van der Waals yang terdapat dalam polimer-polimer sintetik lain dan serat-serat seperti dyneema ( serat yang terbuat dari rantai polietilena yang sangat panjang, yang tersusun searah) . Keberadaan garam-garam dan impuritis lain, biasanya kalsium, dapat mengganggu interaksi pada lembaran polimer dan harus dihilangkan dalam proses produksi. Kevlar terdiri dari molekul-molekul yang relatif rigid, yang membentuk struktur seperti lembaran-lembaran datar pada protein sutra.
Dari sifat-sifat tersebut diperoleh serat dengan kekuatan mekanik yang tinggi dan tahan terhadap panas.
Kevlar mempunyai gugus-gugus bebas yang dapat membentuk ikatan hidrogen pada bagian luarnya, sehingga dapat mengabsorp air dan mempunyai sifat ‘ basah’ yang baik. Hal ini juga menjadikannya terasa lebih alami dan ‘ lengket’ dibandingkan dengan polimer pada umumnya, seperti polietilen.
Sifat-sifat
Kevlar adalah salah satu tipe aramida, yang terdiri dari rantai panjang polimer dengan orientasi paralel. Aramida sendiri merupakan suatu serat sintetik yang berupa rantai panjang poliamida sintetik dengan paling sedikit 85 persen sambungan amidanya menempel secara langsung pada dua rantai aromatik ( gugus amida dan gugus aromatik berselang-seling) . Kekuatan kevlar diperoleh dari ikatan hidrogen intra-molekuler dan interaksi tumpukan aromatik-aromatik antar lembaran. Interaksi-interaksi ini lebih kuat daripada interaksi Van der Waals yang terdapat dalam polimer-polimer sintetik lain dan serat-serat seperti dyneema ( serat yang terbuat dari rantai polietilena yang sangat panjang, yang tersusun searah) . Keberadaan garam-garam dan impuritis lain, biasanya kalsium, dapat mengganggu interaksi pada lembaran polimer dan harus dihilangkan dalam proses produksi. Kevlar terdiri dari molekul-molekul yang relatif rigid, yang membentuk struktur seperti lembaran-lembaran datar pada protein sutra.
Dari sifat-sifat tersebut diperoleh serat dengan kekuatan mekanik yang tinggi dan tahan terhadap panas.
Kevlar mempunyai gugus-gugus bebas yang dapat membentuk ikatan hidrogen pada bagian luarnya, sehingga dapat mengabsorp air dan mempunyai sifat ‘ basah’ yang baik. Hal ini juga menjadikannya terasa lebih alami dan ‘ lengket’ dibandingkan dengan polimer pada umumnya, seperti polietilen.
Kelemahan utama dari kevlar adalah dapat terdekomposisi pada kondisi
basa atau ketika terpapar klorin. Meskipun dapat mendukung tensile
stress yang besar, kevlar tidak cukup kuat di bawah tekanan kompresif.
Untuk mengatasi masalah ini, kevlar sering digunakan secara bersama
dengan bahan yang kuat terhadap tekanan kompresif.
Produksi
Kevlar disintesis dari monomer 1, 4-fenildiamin ( para-fenilendiamin)
dan tereftaloil klorida. Hasilnya adalah polimer aromatik amida (
aramida) dengan cincin benzena dan gugus amida yang berselang-seling.
Dengan langkah produksi ini, diperoleh lembaran polimer yang tergabung
secara acak. Untuk membuat kevlar, bahan-bahan dilarutkan dan diaduk,
menghasilkan rantai polimer yang berorientasi membentuk serat.
Kevlar berharga mahal karena sulitnya pemakaian asam sulfat pekat dalam
produksinya. Kondisi yang ekstrim ini dibutuhkan untuk menjaga
ketaklarutan polimer yang tinggi dalam larutan selama sintesis dan
pengadukan.
Bahan anti-peluru lain yang dikembangkan setelah kevlar diantaranya DSM’
s Dyneema, Akzo’ s Twaron, Toyobo’ s Zylon ( yang kontroversial, studi
terbaru melaporkan, bahan ini terdegradasi dengan cepat sehingga
pemakainya tidak terlindungi seperti yang diharapkan) , atau Honeywell’ s
GoldFlex – semuanya merupakan merk dagang. Bahan-bahan yang baru ini
lebih ringan, tipis, dan lebih tahan dibanding kevlar, namun harganya
lebih mahal.
Proses Bagaimana Sebuah Peluru Ditembakkan
Sebelum anda membaca Proses Bagaimana Sebuah Peluru Ditembakkan ini
lebih jauh, sebaiknya anda terlebih dahulu memahami bagian-bagian dari
peluru. Sebuah peluru terdiri dari beberapa bagian yaitu proyektil
peluru ( anak peluru) , selongsong peluru, mesiu, dan primer.
Keseluruhan rangkaian ini disebut amunisi. Istilah " peluru " sebenarnya
hanya mengacu pada bagian proyektil dari amunisi tersebut, atau anak
peluru yang ditembakkan, dan bukan keseluruhan dari amunisi tersebut.
Selongsong peluru adalah benda yang merupakan wadah yang yang membungkus
proyektil peluru dan terdiri dari propelan ( biasanya bubuk mesiu) ,
rim, dan primer. Bubuk mesiu berfungsi sebagai pencetus ledakan yang
mendorong proyektil peluru dengan energi kinetik. Selongsong peluru
sendiri baru dikenal pada penggunaan amunisi senjata api modern.
Sebuah selongsong yang berisi propelan tanpa menggunakan proyektil
peluru disebut peluru hampa atau peluru kosong, di mana saat primer
terpukul, hanya akan terdengar suara ledakan tanpa adanya proyektil yang
ditembakkan senapan. Peluru hampa umumnya digunakan saat dibutuhkannya
suara dan kilatan senjata api, tanpa proyektil yang berbahaya, misalnya
untuk latihan militer, dalam pengambilan gambar film, dan pada pistol
penanda pada olahraga balap lari. Walaupun tidak berisi anak peluru,
peluru hampa tetap berbahaya. Peluru hampa dapat menyebabkan kematian
bila ditembakkan ke seseorang pada jarak yang dekat. Pemeran film
Brandon Lee dan Jon-Erik Hexum tewas karena senjata api yang menggunakan
peluru hampa.
Terdapat satu lagi jenis amunisi khusus lainnya yaitu peluru karet.
Peluru karet adalah proyektil yang terbuat dari karet, atau yang
dilapisi karet, yang ditembakkan dari senjata api. Peluru karet
digunakan sebagai senjata tidak mematikan, namun tetap dapat menembus
kulit manusia. Peluru karet tetap dapat menyebabkan kematian apabila
digunakan pada jarak dekat atau terkena bagian vital seperti kepala.
Peluru karet, bersama dengan peluru plastik, lilin, dan kayu, digunakan
pada saat kerusuhan atau unjuk rasa. Pertama kali diperkenalkan oleh
pemerintah Amerika Serikat guna menghadang demonstran anti perang
Vietnam pada tahun 60-an.
Bagaimana Proses Sebuah Peluru Ditembakkan
Selongsong peluru bersifat kedap udara dan akan mengunci ruang
pembakaran amunisi dari segala arah kecuali pada bagian bawah selongsong
tersebut.
Ketika pelatuk senapan ditarik, pin pemicu tembakan akan memukul primer dan memicunya.
Percikan api akan terjadi akibat pukulan pin pada primer dan akan membakar gas pada bubuk mesiu.
Gas yang terbakar dari bubuk mesiu mendorong proyektil peluru lepas dari selongsong-nya.
Setelah peluru terlepas, tekanan pada selongsong akan hilang menjadikan
selongsong tersebut terlontar keluar dari ruang pembakaran.
Satu dasawarsa terakhir factor keamanan menjadi suatu hal yg sangat didambakan oleh seluruh masyarakat Jakarta.
Jakarta merupakan Kota terpadat dan termajemuk di Indonesia, yang juga
merupakan kota yg paling tinggi tingkat kriminalitasnya , mungkin tidak
hanya tertinggi di Indonesia , akan tetapi di seluruh Asia tenggara.
Selain tingkat kriminilitas yang tinggi , Jakarta yang merupakan pusat
pemerintahan Negara Indonesia , juga merupakan target utama bagi gerakan
gerakan teroris , baik teroris lokal maupun internasi-onal guna
menggoncang kestabilan keamanan negara maupun guna tujuan- tujuan
politik sekala international , yg di tahun tahun terakhir begitu
dahsyatnya menggoncang kota Jakarta .
Kasus kedubes filipina, kasus malam Natal 2001 , kasus Hotel Ma-rriot,
dan terakhir beberapa saat yg lalu kedubes Australia yang digoncang Bom
berkekuatan tinggi yg memporak porandakan gedung sekitarnya yang
beradius 500 meter dan merengut nyawa orang-orang yg tak berdosa serta
melukai ratusan orang. Belum lagi bom-bom yg sekala kecil yg sering
terjadi di tahun belakangan ini. Merupakan bukti bahwa factor keamanan
begitu susahnya kita dapatkan.
Begitu juga kriminalitas dijalan, perampokan bersenjata, tajam, kampak,
bahkan perampokan dengan senjata api sudah merupakan menu harian
koran-koran ibukota.
Terbongkarnya penyelundupan 2 kontainer berbagai tipe Senjata Api pada
12 November 2004 oleh bea cukai Tanjung Priok , salah satu bukti bahwa
jakarta juga merupakan target potensial untuk beredarnnya senjata api
ilegal, lalu kemanakah beredarnya senjata senjata terse-but maka tidak
heran perampokan dan kejahatan bersenjata api telah menjadi trend
kejahatan saat ini.
Rasa ketidak aman berkendara di jalanan jakarta tidak hanya oleh faktor
kejahatan seperti tersebut diatas saja, akan tetapi sering kali kita
terjebak dalam Tawuran anak anak sekolah dan tawuran antar warga, dimana
batu batu dan benda keras lainnya bisa sangat mengan-cam keselamatan
kita dan keluarga kita yg sedang berada dan ter-jebak ditengah tengah
situasi tersebut.Kerja Keras Polisi sebagai benteng kemananan masyarakan
selama ini terbukti belum lah cukup, masih saja terjadi hal2 seperti
tersebut diatas.
Usaha pengamanan Sendiri adalah hal pencegahan yg paling tepat yg harus dilakukan oleh kita.
Pengertian Rompi Anti Peluru
PENGERTIAN ROMPI ANTI PELURU
Rompi anti peluru (Bulletproof vest)
adalah baju pelindung atau baju zirah yang melindungi bagian tubuh
seperti dada, perut, dan punggung orang yang memakainya dari proyektil
peluru dan serpihan dari ledakan granat. Umumnya digunakan oleh personel
militer dan orang-orang yang memiliki risiko terkena tembakan.
Jenis rompi anti peluru
Rompi anti peluru dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Soft Body Armor dan Hard Body Armor.
A. Soft body armor

Soft body armor
Soft body armor adalah
rompi anti peluru yang terbuat dari serat aramid (aramid fibres). Satu
lapisan Kevlar tebalnya kurang dari 1 mm, umumnya standar baju terdiri
hingga 32 lapisan dan beratnya biasa mencapai 10 kg. Rompi ini cenderung
lebih ringan sehingga menguntungkan untuk digunakan dalam tugas-tugas
penyamaran, atau pengamanan bagi personel intelijen
B. Hard Body armor
Dengan menambahi soft body armor dengan lapisan tertentu, dapat dihasilkan rompi anti peluru hard body
armor. Umumnya lapisan terbuat dari keramik (Al2O3 "Alumina"),
lempengan logam atau komposit. Bentuknya yang tebal dan berat
menjadikannya tidak comfort, hingga jarang dikenakan dalam tugas
keseharian. Hanya dalam tugas khusus yang beresiko tinggi, seperti
operasi militer atau operasi tim SWAT yang akan mengenakan hard body
armor.
Pengertian Rompi Anti Peluru
Read More
PENGERTIAN ROMPI ANTI PELURU
Rompi anti peluru (Bulletproof vest)
adalah baju pelindung atau baju zirah yang melindungi bagian tubuh
seperti dada, perut, dan punggung orang yang memakainya dari proyektil
peluru dan serpihan dari ledakan granat. Umumnya digunakan oleh personel
militer dan orang-orang yang memiliki risiko terkena tembakan.
Jenis rompi anti peluru
Rompi anti peluru dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Soft Body Armor dan Hard Body Armor.
A. Soft body armor
![]() |
| Soft body armor |
Soft body armor adalah
rompi anti peluru yang terbuat dari serat aramid (aramid fibres). Satu
lapisan Kevlar tebalnya kurang dari 1 mm, umumnya standar baju terdiri
hingga 32 lapisan dan beratnya biasa mencapai 10 kg. Rompi ini cenderung
lebih ringan sehingga menguntungkan untuk digunakan dalam tugas-tugas
penyamaran, atau pengamanan bagi personel intelijen
B. Hard Body armor
Dengan menambahi soft body armor dengan lapisan tertentu, dapat dihasilkan rompi anti peluru hard body
armor. Umumnya lapisan terbuat dari keramik (Al2O3 "Alumina"),
lempengan logam atau komposit. Bentuknya yang tebal dan berat
menjadikannya tidak comfort, hingga jarang dikenakan dalam tugas
keseharian. Hanya dalam tugas khusus yang beresiko tinggi, seperti
operasi militer atau operasi tim SWAT yang akan mengenakan hard body
armor.
Langganan:
Postingan (Atom)






